Beberapa hari yang lalu gue nonton satu film Indonesia yang berjudul Cewe Matrepolis - atau Matrepolitan? – lupa deh gue, tapi gak penting kok. Intinya, gue nonton film Indonesia.
Bagi kalian yang mengenal gue secara intim namun higienis mungkin akan kebingungan. Kenapa bingung? Well, soalnya seorang Rima tidak biasa-biasanya nonton film lokal – yang untuk gue sih sebetulnya impor, gue kan gak tinggal di Indonesia lagi. Eniwei, ternyata nonton film Indonesia itu adalah salah satu obat penawar rindu kampung halaman akut yang teramat jitu, although, jongkok di pojokan dapur, ngulek sambel sembari menghirup bau terasi yang sangatlah menghipnotis (walau kadang mengakibatkan gue menderita malu fatal akibat lirak-lirik ganas para tetangga) diiringi alunan mesra melodi dangdut yang genit “jatuh bangun akuu.. mengejarmmuuuuu” adalah satu lagi obat kangen yang mantap-sumantap.
Ya temans, gue harus mengakui, gue yang sekarang adalah gue yang berbeda. Seorang pengoleksi film-film Indonesia dan tembang-tembang dangdut ceria. Jangan ketawa dulu.. ini adalah efek samping yang dialami banyak rekan kita yang telah lama tinggal di luar Indonesia. Setelah hampir 6 tahun menjalani hidup sebatang kara-berdua (?) di daratan Eropa yang ganas ini, gue merasa nonton film Indonesia, mendengar lagu dangdut, mencium bau petai dan beberapa aktivitas yang memiliki norak factor yang amat tinggi adalah satu pelepasan rindu yang terbukti efektif.
Koleksi film Indonesia gue udah lumayan banyak. Bukan untuk sekedar gagah-gagahan atau penghias lemari semata, tetapi benar-benar untuk bahan tontonan. Berikut akan gue tulis beberapa review pribadi gue atas beberapa film Indonesia yang telah gue tonton, plus rating-an gue. Sebagai bahan panduan, rating gue adalah sebagai berikut:
kondom bekas: ancur, range keancuran dapat dilihat jelas dari berapa angka di depannya, 1 lumayan ancur sampai 5 yang berarti ancur be-ge-te
kutang robek: lumayan. Antara lumayan jelek sampe agak jelek. Gak pake angka soalnya gak ngefek.
kolor emas: bagus, range kebagusan juga dilihat dari berapa angka di depannya, 1 lumayan bagus sampai 5 yang berarti bagus banget dah!
Nah, kalau kalian sudah merasa dapat memahami dengan jelas sistim rating gue ini, silahkan membaca ulasan gue di bawah ini, kalau belum jelas mengenai sistim rating gue, silahkan penjelasan tersebut dibaca kembali dengan baik, dua atau tiga kali agar benar-benar paham.
Realita cinta dan rock n’ roll – 1 kondom bekas
Dibilang lumayan jelek sebetulnya bisa, tapi ada satu faktor yang tidak memungkinkan gue untuk menghadiahkan sebuah kutang robek untuknya yaitu, ide cerita yang sangatlah bodoh tidak masuk di akal, sama sekali tidak berbau budaya kita, sok film indie ngamrik yang ber-setting di Jakarta dan berisi aktor Indonesia dan blasteran. Dua pelipur lara gue saat menonton film ini adalah Barry Prima yang surprisingly courageous membawakan peran seperti ini (doi mirip banget beberapa oma gue) plus bodi kedua cowo2 pemeran utama yang udah lumayan enak diliat, gak begeng kaya roy marten lagi.
Kejar Jakarta - 1 kolor emas
Agak kocak, membuat gue ingat masa kejayaan padhyangan circa awal hingga pertengahan 1990-an di saat mereka masih segar, lucu dan belum bau apek basi.
Gie - 2 kolor emas
Sebuah film Indonesia yang tidak mengecewakan.
Jelangkung - kutang robek
Film komedi horror yang tidak menyeramkan tapi malah lucu dan sempet membuat gue dan suami tergelitik dan kecepirit.
Arisan - 3 kondom bekas
Satu film Indonesia yang membuat gue ngakak terbahak bahak dengan memelas karena melihat tingkah polah para pemainnya. Film yang sarat dengan ke-over-acting/sinting/giling-an para pemainnya dan sutradara yang gue rasa tidak kalah miringnya. Which is too bad soalnya ide ceritanya agak solid dan menarik, yang apabila digarap secara sedikit lebih waras dan less-colorful mungkin bisa jauh lebih bagus, at least bisa gue anugerahkan sebuah kolor emas atau kutang robek.
Eiffel I'm in love - 2 kondom bekas
Jelek, kelamaan, terlalu borju, aktingnya kaku (kecuali akting cewe remaja yang utama, agak imut gue rasa), kelamaan, kelamaan, waktu tayang terlalu panjang, bikin ngantuk, kelamaan.
Ada apa dengan Cinta? - kutang robek
Film Indonesia pertama yang gue tonton setelah mungkin hampir 16 tahun. Gak terlalu jelek, agak jelek saja. Tapi gak bikin mata gue berdarah-darah menontonnya seperti saat gue menonton Cewe Matrepolis dan Virgin.
Ca bau kan - 4 kolor emas
Menurut gue ini adalah salah satu film Indonesia yang bagus dan powerful, layak untuk dikirim ke Oscar, terutama dari desain set dan kostum. Ferry Salim aktingnya bagus, bisa me-reproduksi aksen cino-suroboyo jaman itu yang begitu tepat (kebetulan gw kenal orang surabaya keturunan tionghoa yang kasih tau gue soal ini, gue bukan ahli dialek kok) dan lola amaria juga lumayan bagus aktingnya dalam film ini.
Cewek Matrepolis dan Virgin - 5 kondom bekas
Gue gak ngerti banget kedua film ini maunya apa. Njing. Nyet. Sat. Haram Jadah. Kampret. Diancuk. Jelek banget. Mata dan idung gue berdarah-darah, kuping gue gak berhenti berdengung dan migren gue kumat sesaat setelah kelar nonton. Untung ada bir dingin dan satu pint haagen-dazs yang mungkin sudah kadaluarsa di lemari es gue saat itu yang mampu mengobati sakit gue, kalau tidak mungkin gue masih diopname di rumah sakit sampai sekarang.
Sebetulnya masih ada beberapa lagi film Indonesia yang udah gue tonton, tapi gue gak inget judulnya, terpaksa belakangan review-nya. Ada beberapa juga film yang membuat gue agak bingung karena gue gak yakin apakah itu film Indonesia, film semi-indonesia atau film berbahasa inggris yang di semi-dub dalam bahasa Indonesia.
Gue tidak naif dan menganggap bahwa budaya Indonesia, apalagi di jaman sekarang ini, adalah masih sekuat misalnya, budaya jepang. Gue lebih sering berbicara dalam bahasa inggris, itu gue akui. Gue juga lebih sering menulis dalam bahasa inggris, karena gue merasa banyak kata dan frase dalam bahasa inggris yang mampu dengan tepat menangkap maksud dan keinginan gue dan seringnya lebih ekspresif dalam menuangkan isi hati (dalam tulisan ini, karena bahasa primer yang gue gunakan adalah bahasa Indonesia, sebisanya frase maupun kata-kata dalam bahasa asing gue tulis dalam huruf miring, yang mana merupakan praktik lazim dalam dunia tulis-menulis, kalau gue tidak salah) Mungkin hal ini terjadi karena gue mengenal bahasa inggris sejak usia kecil, tapi tetaplah bahasa Indonesia adalah bahasa utama gue, tidak seperti adik-adik gue yang bahasa ibu/pertamanya adalah bahasa inggris.
Namun, dalam film Indonesia sekarang-sekarang ini banyak sekali hal maupun dialog yang lucu, aneh dan cenderung absurd. Banyak terminologi dalam bahasa inggris yang digunakan, namun tidak tepat dan sering membuat adegan tersebut menjadi "too much gitu lowh." Seperti misalnya, di saat berada bersama sesama orang Indonesia apabila kita merasakan sakit biasanya akan berteriak “Aww!” atau “Aduhh!!” atau "Anjiiing!!" atau bagi yang latah mungkin ada beberapa oran yang melontarkan kata-kata yang menggambarkan beberapa anggota bagian tubuh atau alat reproduksi dengan jelas. Gue pribadi jarang sekali berteriak “Ouch!” kecuali memang lagi diantara orang orang berbahasa inggris, dan ini salah satu refleks verbal gue (yang memang agak aneh, tapi dari sananya sudah seperti itu, gue gak bisa jelasin kenapa).
Yang aneh, dalam beberapa film Indonesia, di saat para pemain film merasakan sakit (kejeduk misalnya) mereka berteriak “Ouch!”. Bener, sumpah.. gue gak bohong. Dan bukan hanya itu, sedikit-sedikit dialog dihiasi dengan kata-kata dalam bahasa Inggris, ataupun apabila bahasa Indonesia masih banyak dipakaipun lantas diperkosa, dimanipulasi, dimodifikasi, diganti dengan frase-frase (sok) inggris.
Atas dasar hal-hal inilah, untuk beberapa film Indonesia review-nya akan menyusul setelah gue berhasil mendeterminasi apakah film-film tersebut merupakan film lokal atau impor (sebetulnya film Cewe Matrepolis tergolong dalam kategori ini, tapi setelah pemikiran dan pengamatan lebih lanjut gue berhasil memutuskan bahwa ini adalah sebuah film Indonesia, walaupun hampir separuh dialog adalah bahasa inggris, tapi berhubung seluruh pemainnya berwajah gepeng datar dan berhidung pesek mungil khas Indonesia - hanya mungkin mereka-mereka ini tengah mengalami syok kultur kronis, maka gue masukkan dalam review film Indonesia gue kali ini)
Tapi all insults and complaints aside, film-film yang gue tonton (dan lagu lagu dangdut yang gue dengar) adalah kenikmatan nista (maksud gue guilty pleasure - ada gak sih padanan katanya untuk istilah ini?) bagi gue dan suami yang seringnya mampu meringankan penderitaan kita berdua disaat temperatur mencapai minus sekian derajat Celcius.
Kok bisa? soalnya film-film ini cenderung membuat otak kita mendidih saking kita jadi terjijay-jijay. Dan disaat heater kita tidak menyala dengan baik, mendidihnya otak kita itu sangat membantu proses penghangatan tubuh secara hemat dan efisien. Jadi, udah badan hangat, rindu pun terobati!



