Saya sangat penasaran dengan film ini. Kenapa? Karena gaungnya terdengar sampai Eropa. Well, at least, di antara orang orang Indonesia, bukan di antara bule-bule Eropa. Belum sampai situ kok kualitas sinema Indonesia.
Akhirnya, dapat informasi dari teman bahwa film ini sudah bisa ditonton di youtube. Jumat malam lalu, saya dan suami ada waktu luang sedikit dan kami akhirnya menonton film ini. Untuk film yang "katanya" adalah drama cinta yang sedih dan menyentuh, sungguh aneh, karena (seperti biasa) kami banyak tertawa, terpingkal-pingkal bahkan.
Sebetulnya tangan saya sudah gatal ingin menutup windownya youtube dan menghentikan siksaan film tersebut, namun karena saya sudah bertekad untuk menulis review film Indonesia lagi, maka terpaksa saya urungkan, walau dengan berat hati. Kami akhirnya baru dapat menyelesaikan film itu hari Senin, selain karena yang mengupload ke youtube melakukannya dalam beberapa tahap, kami juga tidak dapat menontonnya sampai habis dalam satu hari. Kami tidak mau sampai buta, karena biaya operasi Lasik sangat mahal, jadi akhirnya nontonnya dicicil agar otak dan mata kami masih dapat berfungsi setelahnya.
Sesuai niat, di bawah ini ulasan film Ayat-ayat cinta yang menurut orang banyak adalah film Indonesia terbaik tahun 2008 tapi menurut saya mungkin adalah film Uranus terbaik tahun 2008, karena saya menolak anggapan bahwa pembuat film Indonesia bisanya bikin film yang jelek. Di Uranus, mungkin film ini dianggap bagus.
Akting: Seperti bisa, kaku. Akting para pemeran Baywatch saja, yang adalah seri TV yang teramat cupu dan culun, jauh lebih baik dari akting para pemeran film ini. Untung yang memerankan “Aisha” dan “Maria” cantik, jadi saya masih terobati dengan hal itu (sayangnya pemain wanita yang 2 lagi standar kadar kecantikannya, kasian karena jadi timpang dibanding celeb-celeb indo yang dua lagi). Tapi akting pemeran “Fahri?” Well, emosi dia dalam film ini mirip dengan emosi sebuah ketimun, atau mungkin tomat, tapi begitulah kurang lebih, mirip sayur (baca = tidak ada emosi, emotionless).
Acting para pemain pendukung lebih parah lagi terutama sang pemerkosa. (Jangan lupa lihat adegan setelah dia merkosa cewe psycho yang lagi-lagi jatuh cinta ma Fahri dan menuduh Fahri sebagai pemerkosa, nah si pemerkosa ini aktingnya penuh dengan ke-klisean pemeran antagonis, pasti akan tertawa melihatnya) Tapi acting Surya, Marini Sardi dan teman kost Fahri yang bernama Saiful masih agak normal ketimbang yang lain. Mengenai Rudi Wowor saya tidak bisa berkomentar banyak, karena akting dia dari saya masih kecil sampai sekarang ini, di film mana pun, sama saja, sama jeleknya dengan aktor pemeran pengacara. Belum lagi aktingnya teman penjara Fahri yang khas sekali akting teater, (mungkin dari IKJ?) tidak seperti kriminal tapi lebih mirip orang gila. Saya rasa aktor ini temannya Sujiwo Tejo.
Para pemain figuran juga ikut berkontribusi atas jeleknya film ini. Adegan pengadilan yang lucu, adegan penjara yang lucu, yang penuh oleh dorong-dorongan penjaga penjara, aneh sekali. Dorong-dorongan itu boleh saja terjadi, untuk menguatkan kesan “menderita”, “teraniaya” atau kalau si pemain utama misalnya meronta-ronta menolak masuk penjara tapi dipaksa, itu bisa jadi bagus sekali, tapi di film ini semuanya kaku dan sangat buruk. Sedikit sedikit didorong dan diseret tanpa alasan, yang akhirnya membuat adegan tersebut tambah culun dan mengurangi kesan nelangsa yang ingin ditampilkan si Fahri, karena baru pasang muka sedih sedikit, tiba-tiba dengan awkward dia sudah didorong penjaga. Absurd. (Kebetulan si Fahri ini, throughout the whole movie, mukanya nelangsa melulu, apabila senyum pun palsu, matanya tidak ikut tersenyum. Benar benar acting kelas wahid apabila dia ingin berakting sebagai actor pemula yang tidak bisa akting, tapi apabila memang segitu saja kemampuan aktingnya dia, yah berarti dia aktor yang sangat buruk)
Adegan Fahri bebas dari pengadilan. Teman-temannya berhamburan memeluk “Mas” Fahri, dan menggandengnya sembari berteriak, “Hidup Indonesia!” Lho, apa hubungannya? Wong dituduh memerkosa dan terbukti tidak bersalah, kok ujungnya Hidup Indonesia? Lagi-lagi suatu absurditas yang lucu.
Alur dan detil cerita: Mungkin bukunya bagus, saya tidak tahu juga, tapi yang jelas script film ini tidak bagus, ceroboh dan absurd. Tidak eksisnya pengembangan karakter para pemain, terutama karakter Fahri, yang seharusnya merupakan dasar para 4 wanita itu untuk jatuh cinta kepadanya. There is nothing special about this guy, he isn’t even good looking! Ini membuat saya bingung. Si Saiful juga kelihatan baik, kalo ngomong shaleh, Saiful juga terlihat sama, kenapa dia tidak ditaksir sama banyak wanita?
Beda misalnya dengan James Bond yang jelas ganteng, gagah dan macho atau Mcgyver yang ganteng, gagah, pinter dan baik, atau Casanova yang ganteng, sexy dan jagoan merayu ataupun Aragorn di Lord of the Rings yang terlihat bijaksana, menaungi dan powerful, pengembangan karakter yang terlihat jelas sehingga believable apabila ada wanita jatuh cinta kepada mereka, namun hal-hal ini tidak terlihat dalam karakter Fahri, sehingga tidak ada alasan bagi ke 4 wanita tersebut untuk jatuh cinta padanya. (Apakah sebegitu bodohnya 4 wanita tersebut? Sepertinya ini sangat merendahkan martabat wanita)
And then, karena surat cinta tidak dibalas, si “noura” jadi menuduh Fahri sebagai pemerkosa dia? Tanpa saksi mata yang credible, si Fahri masuk penjara (celaka satu) tidak boleh dikunjungi istrinya pada awal-awal dia dipenjara (celaka no. 2) dan tanpa vonis bersalah, dikeluarkan pula oleh Universitas Al-Azhar Cairo (celaka no.3). Masih banyak celaka lain, hingga tiga belas, tapi anda tonton dan cari sendiri saja, kalau menemukan yang lebih aneh lagi, boleh ditambah dalam comment di bagian paling bawah.
Walaupun saya sangat menentang poligami, tapi film seri tv amerika yang berjudul « Big Love » mengenai seorang mormon poligamis yang beristri tiga sangat sarat emosi, kehidupan, kelucuan dan kenyataan. Problem yang mereka hadapi juga masuk akal dan logis, sehingga saya bisa bersimpati pada karakter-karakter seri itu. Belum lagi aktinya yang sebetulnya kelas wahid, menambah bagus dan ironisnya seri tersebut, suatu nilai plus yang membuat saya bulak balik nonton. Poligami dalam AAC? Digambarkan dengan konyol, tidak beralasan jelas dan hanya menyentuh permukaan. Padahal disitu ada kesempatan memainkan peran kedua istri agar lebih dalam, ada kesempatan penggalian emosi dan kontroversi (apabila aktrisnya jago akting, and we can all see mereka semua modal tampang bukan kepiawaian berakting) adanya sumber konflik yang bisa digarap sehingga menjadi menarik, instead, cuma ada adegan2 cemburu tersembunyi, karena masnya mesra sama yang satu, yang satu ngintip dan sedih, lalu mesra sama yang lain, yang pertama ngintip dan juga sedih. Diikuti oleh aisha yang ngambek dan ingin pergi ke Turki, dihalangi omnya, lalu Fahri datang, tiba-tiba tanpa alasan, Everything is Ok, aisha pulang, Maria menyambut dan keduanya berpelukan (jadi bisa threesome dong?) Sangat tidak masuk akal.
Yang juga lucu adalah pertemuan Fahri di metro/tram (kendaraan umum) dengan Aisha. Beberapa puluh menit kemudian ketika mereka telah menikah, ternyata Aisha orang kaya, naik mobil mewah kemana-mana dan membayar segala sesuatunya sehingga Fahri tidak merasa nyaman dan protes yang membuat Aisha berkata (dengan sinis), “Tinggal di apartemen murah, tidak pakai mobil juga tidak apa-apa” Ini lucu sekali, toh memang sudah biasa naik kendaraan umum, wong ketemunya aja di metro kok?
Tokoh Nurul, kemana dia akhirnya? Kok menghilang begitu saja? Awalnya agak prominent atau terlihat, saya kira akan ada sesuatu yang menarik dari situ, ternyata hanya peran penggembira yang diperlukan untuk mengukuhkan bahwa Fahri ini banyak yang naksir. Sayang, padahal kalau digali, mungkin tokoh ini bisa membuat film menjadi sedikit lebih mendingan.
Tokoh Noura juga, ini tidak jelas, apa baik apa tidak, motifnya tidak jelas dan terlalu dangkal, pokoknya tidak jelas intinya.
Satu yang saya senang adalah banyaknya pemakaian bahasa asing disana sini dengan lafal yang sudah ok (kecuali pas bahasa maria membaca surah maryam di metro, kok aksennya sunda?) plus juga subtitling atau penempatan teks yang tidak konvensional (baca: ikut-ikutan seri tv heroes) jadi lain dan agak keren.
Cinematography, setting, sound dan soundtrack: Setting film ini, walaupun terlalu suram dan hampir semua dilakukan indoors (mungkin Manooj Punjabi sedang melakukan penghematan besar-besaran untuk antisipasi apabila tidak laku filmnya) sudah lumayan. Belum bagus, tapi lumayan. Begitu juga dengan Cinematographynya, saya rasa sudah banyak kemajuan dibanding film-film jaman dulu, lightingpun sudah ok, begitu juga dengan pengambilan gambar. Namun soundnya, yang mati nyala dan sangat mendem disaat para aktor berbicara, itu hal yang kerap kali saya temukan di film, juga lagu-lagu Indonesia. Vokal mendem, musik keras. Untuk soundtracknya, saya cinta lagu yang dipakai film ini, yang merupakan soundtrack film Schindler’s List (ini, baru film bermutu) sehingga ada beberapa blog yang mengatakan bahwa film AAC ada agenda zionis karena memakai soundtrack film Yahudi (bagi yang berpendapat begitu, seharusnya berhenti juga memakai computer, internet, mobil, televisi, teknologi selular, fax machine, pacemaker jantung, incubator bayi premature, sports bra, video tape, remote control, electric meter, oral kontrasepsi, antihistamin dan ribuan hal “zionis” lainnya). Harusnya memang the Punjabis memakai lagu qasidahan untuk film ini agar tidak dituduh zionis.
Sebetulnya masih banyak gangguan lain seperti adegan ciuman (walaupun bohongan) yang sebetulnya tidak perlu, karena kan katanya kini film bernuansa “Islam” jadi Public Display of Affection walaupun oleh dua orang yang sudah “halal” bukan hal yang selayaknya ditampilkan (anehnya kali ini tidak ada yang protes) dan juga adegan terakhir Maria shalat/masuk Islam, tanpa alasan tertentu, dikena-kena kan, terlihat dipaksakan. (Karena cinta? Picik sekali alasan itu tapi mungkin hal ini yang bikin film ini sebegitu meledaknya. Coba kalau Fahri dan Aisha Kong hu cu dan Maria Muslim lalu pindah agama ke Kong hu cu, saya rasa tidak akan meledak filmnya, mungkin bioskop yang memutar justru dirusak dan dibakar massa) Tapi karena terbatasnya waktu saya menulis pada saat ini dan juga sudah capek mengetik, maka sampai disini saja resensi AAC versi saya.
Intinya, film ini bagi saya sama seperti sinetron, hanya seratus kali lebih panjang dan lebih menyakitkan, walaupun bukan a total waste of time, karena menjadi inspirasi resensi kali ini. AAC saya anugerahkan 2 (dua) kondom bekas, karena alasan di atas. Tadinya saya mau kasih 3, tapi karena camera worknya cukup bagus dan artistik, maka saya upgrade satu level. Bagi yang tidak setuju dengan resensi saya, tough luck. Tapi inilah pendapat saya tentang film celaka tigabelas bernama Ayat ayat cinta. Semua venting out dan caci maki (sepertinya yang ini akan banyak, berhubung banyak yang berpendapat bahwa ini adalah film Indonesia yang “the best ever” – yang saya lanjutkan dengan “if watched when you are drunk out of your silly little mind”) maupun anggukan tanda setuju silahkan ditujukan kepada comment section.
update: Baru dapat kabar bahwa film AAC yang saya tonton di youtube dan yang diputar di Bioskop memiliki perbedaan soundtrack. Yang resmi diputar di bioskop tidak menggunakan OST Schindler's list lagi, telah diganti
with who knows what. Saya tidak tahu karena saya tidak di Indonesia, dan tidak mungkin menonton yang versi sana.