Sebetulnya enjoy sih ikut ke resepsi - dimana ada free food, buffet pula, itulah surga saya - apalagi mesti play dress up (biasanya pasti melibatkan baju yang memperlihatkan cleavage - memang saya dulu waktu masih
Yang membuat saya benci ikut ke resepsi perkawinan itu adalah biasanya setelah bertemu teman-teman si mami yang merupakan Ibu-ibu Indonesia usil tukang tanya tanya (I3UT3), pasti semuanya akan bertanya, "Jadi, kapan dong Cherry (nama mami) mantuan juga?" Pertanyaan macam ini biasanya akan membuat saya merasa ter-pressure sehingga saya tidak dapat menikmati makanan buffet dengan lega, dan apabila saya tidak bisa makan dengan perasaan plong dan bebas, itu biasanya membuat saya menjadi sangat bad mood.
Biasanya, hal yang membuat saya kesal juga adalah apabila si I3UT3 ini menanyakan hal seperti ini sambil memaksa untuk menjodohkan saya sama anaknya yang laki-laki, lebih parah lagi kalau anaknya itu dia bawa ke resepsi itu juga. Paling parah kalau dia tanya itu, sambil melirik-lirik saya dan anaknya dengan penuh arti dan nyikut si mami sambil memberi kode-kode yang menurut dia rahasia, padahal nenek nenek katarak juga akan tahu maksud kode tersebut yang merupakan permintaan persetujuan dari si mami untuk menjodohkan saya dengan anaknya.
Ini saya benci kalau anak si I3UT3 itu jelek. Kalau anaknya cakep, lain perkara. Biasanya tanpa dia sikut sikut mami saya dan lirak lirik penuh arti, sudah saya tarik anaknya ke salah satu sudut ruangan untuk *ahem* 'mengenal' dirinya lebih lanjut.
Mami saya itu senaaaaaaang sekali mempertemukan saya dengan anak laki-laki I3UT3 yang single, sukses dan cakep. Masalahnya, cakep buat si mami, belum tentu cakep buat saya. Disitulah kita akhirnya suka berantem yang biasanya akan dilerai oleh daddy dengan penyesalan diri seperti, "sudahlah schat (panggilan sayang daddy untuk si mami), biarin aja kakak cari jodoh sendiri. Salah daddy juga sih, daddy terlalu cakep dan sempurna sehingga kakak sulit cari jodoh yang seperti daddynya, ya nggak kak?" (Saya dipanggil kakak oleh semua orang di rumah saya, kecuali pembantu saya yang pernah panggil saya kak dan saya balas dengan, "Kakak? Emang bapak lu kawin ma emak gua?")
Pertanyaan pertanyaan seperti "kapan nih kawin?" atau, "kapan nih nyusul?" dan variasi variasi lain dari pertanyaan yang sama inilah yang saya paling benci, dimana saja, kapan saja dan memang paling sering dilontarkan oleh teman-teman si mami yang I3UT3, dan keluarga besar saya dari kedua belah pihak. Hal ini juga yang membuat saya kurang suka ketika Lebaran tiba, saat keluarga besar kumpul dan serentak menanyakan hal yang sama kepada saya.
Sungguh, saya cinta mati makanan Lebaran, namun pertanyaan seperti di atas saya paling benci, apalagi apabila diiringi oleh, "Makanya Rima diet, kalo makan jangan banyak banyak, nanti kalo gendut terus susah deh cari suami!" Biasanya disaat mendengar ini saya terselak dan ingin sekali melemparkan ketupat/sandal/mobil ke muka orang yang bicara seperti itu, karena walaupun gendut, saya tidak pernah kesulitan cari pacar.
Setelah menikah, saya kira pertanyaan-pertanyaan yang annoying akan berhenti. Ternyata salah besar.
Pertanyaan baru yang muncul dan sekonyong-konyong menjadi trend baru yang orang tanyakan kepada saya adalah, "Kapan nih punya anak?" dan variasi lainnya dari pertanyaan itu. Yang lebih menyinggung perasaan adalah, "Lagi isi ya? Udah berapa bulan?" karena perut saya tidak pernah ada isi selain makanan yang lezat. Yang paling menyinggung adalah nasihat nasihat para I3UT3 sok tahu seperti, "Jangan lama-lama, kan sekarang rima sudah XX tahun, nanti kalo kelamaan bahaya loh!"
Biasanya, pertanyaan seperti itu akan saya jawab dengan, "Ya sebentar lagi deh punya anak, tunggu Yan (suami saya) berhenti mens/sedang berovulasi," atau, "Sepertinya saya lebih ingin punya binatang peliharaan dibanding anak," ataupun, "Aduh mahal deh punya anak, nanti tidak bisa liburan kemana-mana dan beli barang yang saya mau lagi deh!" Biasanya jawaban terakhir akan membuat mereka tutup mulut sambil diam diam mengiyakan dalam hati, karena hal itu yang terjadi dengan diri mereka.
Tahun lalu, di tahun ke4 pernikahan kami, akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu berhenti, karena sepertinya para I3UT3 agak takut mendengar jawaban saya yang semakin hari semakin
Pada akhirnya saya tahu, tidak ada tempat dimana saya bisa menghindar dari pertanyaan pertanyaan menyelekit yang kerap dilontarkan oleh I3UT3, karena itu adalah culture kita, dan secara tidak sadar, saya juga sudah mulai melontarkan pertanyaan serupa apabila bertemu dengan teman-teman adik saya yang masih single, atau yang baru menikah. Walaupun biasanya sedetik setelah saya melontarkan pertanyaan seperti itu, saya langsung menyesal sekali dan ingin rasanya menyentil mulut saya sendiri.
Seperti yang Therry pernah katakan ke saya, "You are becoming what you wrote," ketika saya menulis post ini dan menanyakan kepada dia apa bahasa Indonesia dari kata offensive (ada hubungannya dengan postingan saya tentang Foreign Languages di sini), membuat saya sadar untuk tidak lagi terlalu benci terhadap sesuatu karena dapat membuat saya berubah menjadi mirip seperti hal yang saya benci itu. Tapi memang para I3UT3 itu tidak bisa dihindari, kecuali mungkin apabila saya pindah ke Mars atau bulan.






































